Selasa, 10 April 2012

Review oleh: Muhammad Khoirun Aziz (09410073)

PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, DAN MASYARAKAT MADANI INDONESIA
Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed.

Penerbit: Bandung, PT. Remaja Rosdakarya Offset
Tahun terbit : 2002
Tebal Buku: XI + 252 halaman

Terdapat dua pendekatan untuk memahami hakikat pendidikan, yaitu secara epistemologi dan ontologi.
Yang pertama, adalah pendekatan epistemologis. Pendekatan ini berusaha mencari makna pendidikan sebagai ilmu, yaitu  mempunyai objek yang akan merupakan dasar analisis membangun ilmu pengetahuan yang disebut ilmu pendidikan.
Yang kedua, adalah pendekatan ontologi atau metafisik. Pendekatan ini menekankan kepada hakikat keberadaan, dlam hal ini keberadaan pendidikan itu sendiri.
Kedua jenis pendekatan tersebut memiliki kebenaran masing-masing. Ilmu pendidikan sebagai ilmu tentunya memiliki objek, metodologi, serta analisis mengenai proses pendidikan itu. Namun objek pendidikan itu juga tidak lepas dari peran hakikat manusia.
Berbagai pendekatan hakikat pendidikan dapat digolongkna atas dua kelompok besar, yaitu:
a.       Pendekatan Reduksionisme
Reduksionisme memandang hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global.
Dalam lingkup pendekatan reduksionisme, terdapat beberapa pendekatan antara lain:
1)      Pendekatan pedagogisme
Titik tolak dari pendekatan ini adalah mendewasakan anak. Dengan menghormati hakikat anak, teori ini memunculkan banyak teroi untuk tumbuh kembang anak. Sehingga melahirkan child centered education.
2)      Pendekatan Filosofis
Pendekatan ini bertolak dari pertentangan mengenai hakikat manusia dan hakikat anak. Seorang anak memiliki hakikatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa. Pandangan filosofis ini menekankan bahwa seorang manusia bertanggung jawab pada kehidupan dan pendidikannya sendiri.
3)      Pendekatan Religius
Pendekatan ini dianut oleh pemikir-pemikir yang melihat manusia sebagai makhluk religius. Dengan demikian hakikat pendidikan ialah membawa peserta didik menjadi manusia yang religius karena sebagai makhluk Tuhan maka harus dipersiapkan sesuai dengan harkatnya.
4)      Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis ini telah mereduksi ilmu pendidikan menjadi ilmu proses belajar mengajar. Namun dalam masyarakat modern, tidak hanya terbatas pada proses belajara mengajar saja,  tetapi sejalan dengan perkembangan pranata pendidikan sebagai pranata sosial.
5)      Pendekatan Negativis
Pendekatan ini diambil dari pandangan Filsof Bertrand Russel, yang membagi tugas pendidikan menjadi 3, yaitu:
a)      Tugas pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak
b)  Melihat pendidikan sebagai usaha mengembangkan kepribadian peserta didik atau dengan kata lain membudayan individu.
c)      Proses pendidikan adalah melatih peserta didik menjadi warga negara yang berguna
6)      Pendekatan Sosiologis
Hakikatnya, pendekatan ini memandang pendidikan sebagai keperluan hidup bersama dalam masyarakat, sehingga memandang bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat.
Versi lain dari pandangan ini ialah Developmentalisme, yaitu segala sesuatu diarahkan kepada mencapai tujuan pembangunan.
b.      Pendekatan Holistik Integratif
Pendekatan ini melihat proses pendidikan, peserta didik, dan keseluruhan perbuatan pendidikan termasuk lembaga-lembaga pendidikan, telah menampilkan pandangan-pandangan ontologi maupun metafisis tertentu mengenai hakikat pedidikan.
Rumusan operasional yang mengenai hakikat pendidikan dalam pandangan Reduksionisme mempunyai komponen-komponen sebagai berikut:
1)      Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan
2)      Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia
3)      Eksistensi manusia yang memasyarakat
4)      Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya
5)      Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi-dimensi waktu dan ruang.

HAKIKAT KEBUDAYAAN
Inti dari setiap kebudayaan adalah manusia. Akan tetapi hakikat kebudayaan itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan antropolog.  Tidak ada kebudayaan yang statis. Di dalam kebudayaan terdapat unsur universal yang berlaku untuk setiap anggota dan ada pula unsur-unsur kekhususan yang dianatu oleh segelintir anggota. Rumusan ini dikemukakan oleh Ralph Linton di dalam bukunya The Cultural Background of Personality.
Definisi Tylor mengenai budaya adalah: “budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”.
Implikasi dari rumusan tersebut yang dapat dipetik dalam usaha kita untuk mempunyai pengertian yang lebih jelas mengenai hakikat pendidikan adalah:
a.       Adanya keteraturan dalam hidup bermasyarakat
b.      Adanya proses pemanusiaan
c.       Di dalam proses pemanusiaan itu terdapat suatu visi tentang kehidupan
Konsep kebudayaan nasional menurut Ki Hajar Dewantara dikenal dengan Trikon. Menurut beliau kebudayaan berarti buah budi mansuia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman.
Rumusan Ki Hajar Dewantar mencakup:
a.       Kebudayaan selalu bersifat kebangsaan dan mewujudkan sifat atau watak kepribadian bangsa.
b.  Tiap-tiap kebudayaan menunjukkan keindahan dan tingginya adat kemanusiaan pada hidup masing-masing bangsa yang memilikinya.
c.       Tiap-tiap  kebudayaan sebagai buah kemenangan manusia terhadap kekuatan alam dan zaman.

PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN
Tanpa proses pendidikan tidak mungkin kebudayaan itu berlangsung dan berkembang bahkan memperoleh dinamikamya.
Pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secaa pasif, tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah dari kepribadian-kepribadian.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi. Kebudayaan ditransmisikan generasi ke generasi dan bisa dilihat dalam proses pendidikan. Sehingga Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa tugas lembaga pendidikan bukan hanya mengajar untuk menjadikan orang pintar dan pandai berpengetahuan dan cerdas, tetapi mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam kehidupan agar kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan bersusila
Di dalam proses pembudayaan terdapat pengertian-pengertian seperti inovasi dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi, fokus, krisis dan prediksi masa depan.

KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN
Pendidikan di Indonesia mulai terkenal karena konsep Taman Siswa. Konsep Taman Siswa dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa pendidikan beralaskan garis-garis hidup bangsanya yang ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemulyaan segenap manusia di seluruh dunia.
Kebudayaan merupakan dasar dari praksis pendidikan, maka bukan saja seluruh proses pendidikan berjiwakan kebudayaan nasional, tetapi juga seluruh unsur kebudayaan harus diperkenalkan dalam proses pendidikan.
Pandangan Taman Siswa tersebut ternyata sejalan dengan pandangan kontemporer. Seperti halnya Taman Siswa, Barameld menjelaskan bahwa proses pendidikan adalah aspek integratif dari proses kebudayaan. Proses kebudayaan mempunyai tiga aspek yang berkaitan, yaitu:
a.   Kebudayaan mempunyai tata susunan yang komplek namun  merupakan suatu anyaman berpola.
b.   Nilai-nilai kebudayaan ditransmisikan dengan proses-proses “acquiring” melalui “inquiring”
c.    Proses kebudayaan mempunyai tujuan
Pendidikan dunia sekarang sedang mengkaji kembali tentang perlunya pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti. Hal ini muncul didasari karena melemahnya ikatan keluarga, kecenderungan negatif di dalam pemuda, dan kebangkitan kembali perlunya nilai-nilai etik.

PENDIDIKAN KEBUDAYAAN
Pendidikan di Indonesia terlihat telah tercabut dari akar kebudayaan Indonesia. Sehingga perlu adanya program pengenalan dan pengembangan kebudayaan. Proses pengenalan, pemeliharan dan pengembangan ini dapat dilakukan dalam proses pendidikan Formal, Informal, dan Non-formal.
Setiap bangsa pasti memiliki kebudayaan nasional, sehingga perlu adanya pengenalan, pemeliharaan, dan pengembangan kebudayaan dalam proses pendidikan. Seperti yang dikatakan Koentjoroningrat bahwa dengan adanya kebudayaan ini akan memberikan identitas suatu bangsa sekaligus meningkatkan jalinan komunikasi dan solidaritas suatu bangsa.
Relevansi dari polemik kebudayaan tahun 1935 masih terasa hingga sekarang, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional perlu didasarkan pada pokok yang bersifat nasional Indonesia yaitu unsur-unsur yang lahir dari kebudayaan yang hidup dalam masyrakat Indonesia. Ada banyak wujud-wujud kebudayaan yang dimiliki Indonesia, mulai dari adat istiadat, bangunan, teknologi mata  pencahariaan, dan lain-lain. Pendidikan yang mengusung tujuan kebudayaan nasional diharapkan mampu memberikan identitas bangsa dan meningkatkan solidaritas seluruh masyarakat.
Bahasa indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa pergaulan di dalam masyarakat. Akan tetapi tidak berarti bahasa daerah yang ratusan jumlahny menjadi tak berarti. Justru bahasa daerah harus tetap dihidupkan melalui proses pendidikan karena merupakan harta kebudayaan negara.
Daya cipta lahir dari seseorang yang kreatif dan muncul karena rangsangan dari keseluruhan kebudayaan masyarakat di mana ia hidup. Sehingga aspek afektif yang selama ini cenderung di anak tirikan daripada aspek kognitif perlu diperhatikan lagi. Karena dari aspek afektif inilah akan merangsang kemunculan daya cipta yang kreatif.

KEBUDAYAAN PENDIDIKAN
Burner telah mengingatkan kebudayaan baru, yaitu Komputerisme. Dimana laju informasi akan semakin cepat. Akan tetapi dalam lingkup pendidikan, bukan berarti hanya sekedar memiliki informasi yang lengkap, akan tetapi mampu menyusun pengertian-pengertian. Sehingga budaya mengajar semakin berkembang tanpa meninggalkan kreatifitas pemakai kebudayaan tersebut.
Budaya kolonial yang masih terasa hingga sekarang adalah intelektualisme dan verbalisme. Sehingga praktik pendidikan lebih ke arah formalitas dengan mendewakan ijazah, dan juga kesan pendidikan di Indonesia yang monoton hingga kesempatan analisis terbuka dan pengembangan intelektual sulit berkembang.
Administrasi dan menajemen adalah berbagai usaha untuk mewujudkan visi, misi, dan program dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Terdapat dua jenis administrasi yang diterapkan di Indonesia, yaitu administrasi dan manajemen pendidikan makro dan mikro. Pada waktu Orde Baru, administrasi dan manajemen pendidikan makro sudah berjalan dengan baik. Akan tetapi karena berlebihahan, menyebabkan administrasi dan manajemen pendidikan mikro cenderung terbengkalai.
Kecenderungan lebih menonjolknya administrasi dan manajemen pendidikan makro di Indonesia menyebabkan kurang terfokusnya tujuan pendidikan di daerah-daerah sehingga kesulitan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Maka sudah seharusnya memfokuskan diri pada lingkungan kelembagaan sekolah, bukan pada taraf nasional.
Pendekatan Institusional Administrasi dan Manajemen (PIAM) pendidikan kini sudah diuji cobakan di banyak negara seperi Amerika Serikat dan Australia.
PIAM menyajikan model administrasi dan manajemen pendidikan yang lebih kelembagaan dengan sumber-sumber pendidikan yang disesuaikan dengan proses pembelajaran siswa, pemanfaatan secara maksimal peserta didik, menjunjung tinggi demokrasi seperti dilihat dalam mengambil keputusan bersama antara kepala sekolah dan guru, peningkatan komitmen dan loyalitas staff.
Namun ada beberapa masalah mengenai PIAM ini, yaitu bertambahnya jumlah beban kerja, biaya yang lebih besar, performance sekolah yang tidak sama, dan kesulitan koordinasi mengingat sifat PIAM ini cenderung otonomi sekolah.

MANUSIA BERPENDIDIKAN DAN MANUSIA BERBUDAYA
Seorang disebut bebudaya adalah orang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup di dalam kebudayaan tempat di hidup. Meskipun seseorang bependidikan tinggi dan berwawasan luas, namun tidak bermoral, maka ia tetap dianggap tak berbudaya.
Manusia adalah makhluk yang terus berkembang, sehingga sangat sulit untuk mencarai konsep manusia di Indonesia sendiri karena memerlukan penelitian berbagai dimensi.
Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang menyamaratakan manusia. Akan tetapi pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh potensi manusia secara utuh. Hal ini dapat dilakukan dengan konsep wajib belajar bagi semua warga negara.
Rumusan pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat dilihat dalam asas-asas Taman Siswa yang dikenal dengan Panchadharma, yang terdiri atas: kodrat alam, kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan, dan kemanusiaan.
M. Sjafei’i merumuskan pendidikan berupa seperangkat kelengkapan hidup yang terdiri dari: sifat kemanusian setinggi mungkin, aktivitas yang besar, kecakapan dalam meniru asli dan meniru bebas, kecakapan untuk mencipta sesuatu yang baru, rasa tanggung jawab terhadap keselamatan negara dan bangsa serta kemanusiaan, keyakinan demokrasi dalam hak dan kewajiban, jasmani yang sehat dan kuat, keuletan yang besar, ketajaman berfikir logis, perasaan peka dan halus.
Dua poin penting dalam tujuan pendidikan nasional pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya.
Praksis pendidikan hendaknya memenuhi kriteria yaitu harus mampu mengembangkan seluruh potensi manusia secara umum berasas lingkungan, mampu mengembangkan potensi kepribadian manusia, mampu mengembangkan sikap sopan santun, setiap kelembagaan yang dimiliki pemerintah mampu mengembangkan manusia yang bermoral, mampu mengembangkan kebanggaan nasional.

MASYARAKAT MADANI INDONESIA
Kekuatan-kekuatan global yang mampu mengubah dunia besar-besaran adalah kekuatan demokrativisasi dan kemajuan teknologi komunikasi serta konsep dunia yang terbuka.
Dan dengan adanya kesamaan unsur kemanusiaan yang dimiliki manusia, lahirlah kebudayaan. Dengan kesamaan unsur itu pula manusia terus mepertahankan dan bahkan mengembangkan kehidupannya dengan membangun kerjasama dengan manusia lain. Masyarakat seperti inilah yang dimaksud masyarakat madani, mereka mengembangkan berbagai kemajuan dalam hidup sehingga menarik para filsof untuk mengetahui lebih jauh konsep hubungan individu dengan negara.
Hak asasi muncul menggebrak dunia dengan dicetuskannya perjanjian Bill of Right. Sampai sekarang konsep HAM ini masih terus disempurnakan oleh PBB.
Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri masing-masing individu dan bersifat kodrati bersumber dari Allah swt. Sehingga antar manusia harus saling menghargai hak orang lain. Indonesia mendukung HAM dengan adanya pasal-pasal tentang HAM, yaitu: pasal 27 ayat 1 dan 2, pasal 28, pasal 29, dan pasal 31.
Masyarakat madani di Indonesia merupakan misi gerakan reformasi nasional dan juga visi dari reformasi pendidikan Nasional. Ciri dari masyarakat madani ini meliputi kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara, dan keterkaitan nilai-nilai hukum yang disepakati bersama.

PENDIDIKAN UNTUK MASYARAKAT MADANI INDONESIA
Strategi pendidikan Indonesia dalam membangun masyarakat madani ditempuh melalui:
a.       Pendidikan dari, oleh, dan bersama-sama masyarkat
b.      Pendidikan didasarkan pada kebudayaan nasional, yang bertumpu pada kebudayaan lokal
c.       Proses pendidikan mencakup proses homonisasi dan humanisasi
d.      Pendidikan demokrasi
e.       Kelembagaan pendidikan
f.       Desentralisasi manajemen pendidikan nasional
Strategi reformasi pendidikan nasional meliputi:
a.  Pranata sosial pendidikan keluarga dan sekolah haruslah dijadikan pusat pengembangan kebudayaan daerah dan nasional.
b.      Visi pendidikan nasional berakar dari kebudayaan nasional, perlu dijabarkan secara rinci dalam semua program pendidikan.
c.   Prinsip-prinsip kehidupan nasional yang berdasarkan pancasila perlu dilaksanakan di dalam kehidupan nyata dalam seluruh lembaga pendidikan.
d.      Menghidupkan dan mengembangkan tata cara hidup demokrasi.
e.       Desentralisasi dan sentralisasi pengelolaan pendidikan yang seimbang
Hasil yang diharapkan dari pendidikan nasional untuk membangun masyarakat madani indonesia yaitu:
a.       Sikap demokratis
b.      Sikap toleran
c.       Saling pengertian
d.      Berakhlak tinggi, beriman, dan bertaqwa
e.       Manusia dan masyarakat yang berwawasan global.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons