Selasa, 27 Maret 2012

Khanifudin (09410039)


Resensi Buku

Judul Buku : Seni Tauhid Esensi dan Ekspresi Estetika Islam
Pengarang : Ismail Raji al-Faruqi
Penerbit : Bentang Budaya Jogjakarta
Tebal Buku : 274 halaman
Tahun Terbit : 1999
Oleh : Khanifudin/09410039


A. Alquran sebagai seni tertinggi
Alquran diturunkan di arab tidak lepas dari kontekstual masyarakat arab terutama pada aspek bahasanya. Pada masa itu kesusastraan arab merupakan puncak tertinggi peradaban maka Alquran diturunkan dengan bahasa sastra yang tinggi melampaui sastra arab pada waktu itu sehingga banyak yang beriman karena mukjizat Alquran dari segi kesempurnaan bahasanya. Mukjizat sastrawi ini sebagai bukti bahwa Alquran merupakan wahyu dari langit karena nabi sendiri tidak bisa membaca dan menulis.
Banyak kaum muslimin yang mempelajari Alquran sebagai karya sastra dan berusaha mengungkap keindahan dan kemukjizatannya yang disebut awjuh yaitu aspek-aspek yang menyebabkan Alquran sangat menarik dan tidak bisa disamai. Mereka banyak menemukan keunggulan Alquran dari sudut pandang seni diantaranya:
  • Alquran bukan puisi atau sajak yang dikekang oleh aturan-aturan
  • Terdiri dari kata dan frase yang tepat sekali mengungkapkan maknanya
  • Kesesuaian ayat dan surat serta kontrasnya kata dan frase serta makna sangatlah indah
  • Kaya makna dan kuat tetapi dibuat sangat ringkas
  • Perumpamaan-perumpaman yang ada dan konjungsi serta disjungsi sangat indah
  • Komposisi sangat tepat terjalin dan tersaji dengan indah
  • Mempunyai gaya yang kuat empatik halus dan peka
  • Tidak memiliki struktur sebagaimana struktur kalimat biasa dan tidak tersusun secara sistematis maupun kronologis tapi ayat dan suratnya bersifat otonom

B. Prestasi Prosa
Prestasi prosa dimulai pada abad kedua hijriah dikarenakan pada masa nabi masih menggunakan hafalan, karena penyampaian dari lisan tidak selalu tepat. Pada masa ini raji menamai sebagai abad kesederhanaan atau shadr al Islam. Disebut sebagai abad kesederhanaan karena mempunyai sifat-sifat sebagai berikut yaitu:
  • Keringkasan penyampaian gagasan dan makna dengan sedikit mungkin kat-kata
  • Bebas dari tambahan-tambahan krena sudah indah tanpa itu semua
  • Menunjukkan maknanya tanpa menyatakan dengan terbuka
  • Jalinan yang kuat antara kata-kata dengan gagasan tidak menghilangkan pengucapan yang manis dan jelas serta menggairahkan.
Selanjutnya pada jaman dinasti umayyah disebut masa tawazun. Gaya ini merupakan imitasi dari gaya Alquran yang ungkapan dan jumlah suku kata, panjang dan bentuknya sama atau simetris. Sebuah suku kat dikatakan memiliki gaya tawazun jika suku kata dalam setiap ungkapan memenuhi aturan diatas.
Pada periode Abasiyah disebut klimaks yaitu jaman saj’ dan badi’. Saj’ merupakan prosa yang frase-frasenya bersajak dalam kelompok dua atau lebih. Aturannya adalah bahwa kata-kata harus manis dan nyaring. Sedangkan badi’ adalah gubahan berupa frse-frse yang identik dlam suku katanya bahkan dalam bentuk huruf tanpa tanda diakritis tapi berbeda makna.

C. Kaligrafi
Sejarah munculnya kaligrafi dipengaruhi dipengaruhi oleh Alquran yang menjadikannya bentuk seni dan kebudayaan Islam. Seni tulis sudah ada sejak sebelum masa nabi, kemudian pada saat nabi menerima wahyu banyak para sahabat yang menulisnya dibatu, kayu, pairus, tanah liat dan lain-lain. Pada masa abu bakar, atas desakan dari sahabat umar terciptalah mushaf untuk pertama kalinya. Pada masa khalifah usman Alquran dibuat sama isinya yang terkenal dengan nama mushaf usmani. Gaya yang terkenal pada masa itu adalah kufi dan naskhi gaya ini jelas, sederhana dan mudah dibaca, penciptanya adalah Ibnu Muqlah dari Bagdad. Untuk dekorasi arsitektur dan emblem digunakan tsulut, maghribi dan qurtubi dari kordoba.
Semakin meluasnya agama Islam diimbangi dengan kesadaraan pemeluknya yang semakin meningkat sehingga mempengaruhi seniman-seniman didunia Islam dan melahirkan kaligrafi kontemporer seperti kaligrafi tradisional, figural, ekspresionis, simbolik dan abstrak murni.

D. Ornamentasi
Ornament adalah motif dan tema yang dipakai pada benda seni, bangunan atau permukaan apa saja tetapi tidak memiliki manfaat structural dan guna pakai. Dalam Islam seni ornamentasi tidak hanya tambahan pada permukaan saja pada karya seni yang telah selesai atau hiasan tanpa nilai. Ornamentasi dalam seni Islam harus dapat menciptakan karya seni yang membawa penikmatnya mencapai kesadaran transendensi ilahi. Selanjutnya ada transfigurasi yaitu menyiratkan perubahan bukan hanya perubahan semata melainkan perubahan yang meninggikan, mengagungkan, dan meningkatkan spiritualitas. Disamping itu juga harus memenuhi fungsi transfigurasi struktur dan pengindahan. Pola-pola infinit yang mendasari susunan struktural atau biasa disebut sebagai arabesk mmpunyai beberapa struktur, diantaranya: struktur multiunit, struktur saling mengunci, struktur berkelok dan struktur berkembang.

E. Seni Ruang
Seni ruang dalam Islam terbagi menjadi beberapa bagian, pertama seni yang memerankan peran ekstraornamentasi seperti pelengkung gapura, jembatan, terowongan air dan sebagainya. Kedua arsitektural yaitu karya seni yang menambahkan ruang interior kepada dimensi-dimensi horizontal dan vertical yang memberi kesan kedalaman (dept), volume dan massa. Ketiga lanskaping yaitu suatu bentuk seni seperti hasil karya hortikultura (penanaman dan pemeliharaan) serta seni aquakultur ( artistic penataan kolam, air mancur dan air terjun serta kanal). Keempat urban dan rural design yaitu tata kota tentang hubungan antara satu bangunan dengan bangunan lain, ruang terbuka, kampong, kompleks, desa atau kota.
Ciri-ciri utama seni ruang yaitu adanya overlay atau penutup, yaitu pemakaian ornament pada seni bangunan. Transfigurasi bahan, yaitu pemilihan bahan yang berupa sifat alami, tekstur dan pola-pola infinit yang menutupi bahan tersebut.Ttransfigurasi struktur, yaitu memperbanyak hiasan dengan cara abstraksi dan naturalisasi. Transfigurasi ruang tertutup, yaitu dengan mengurangi kesan kemampatan pada ruang misalnya pembuatan kubah pada atap masjid. Ambiguitas fungsi, merupakan hasil dari prsepsi seniman Islam yang menyatakan bahwa ruang itu tidak hanya dibatasi untuk satu tujuan kegunaan saja, misalnya ceruk sebagai penunjuk arah kiblat pada masjid.

F. Seni Suara
Seni suara dalam bahasa arab dikenal dengan handasah al shawt hal ini menunjukkan bahwa istilah musik sangat sempit dibandingkan dengan istilah tadi yang berlaku untuk semua jenis aransemen dan ritme artistic vokal serta aransemen. Seni suara dalam Islam mempunyai beberapa faktor yaitu kategori jenis musik, kontks pertunjukan, para pemain, partisipasi hadirin, ekstensi historis dan relevansi interregional.
Model seni suara dalam lagu Alquran pada dasarnya homogen karena ada tradisi qiro’ah dengan begitu tetap ada kontinuitas dalam tradisi lagu Alquran. Untuk lagu panggilan sholat atau adzan biasanya akan beragam serta untuk puji-pujian kepada nabi Muhammad SAW atau yang biasa disebut dengan sholawatan. Contoh barzanji, rebanah, kompang, hadrah, naat, melvit dan miraciye demikian sebutan untuk lirik-lirik sholawatan dibrbagai negara.


Kelebihan
Buku ini membahas dengan detail mengenai seni sastra dalam Islam seperti kaligrafi, ornamentasi, seni ruang dan seni suara. Semuanya dibahas dengan memberi contoh-contoh yang jelas dan diambil dari berbagai negara-negara muslim diseluruh dunia. Hal ini menjadikan wawasan tentang seni Islam semakin luas dan menambah rasa ingin tahu tentang kesenian Islam diseluruh negara-negara Islam didunia.


Kekurangan
Menurut saya kekurangan buku ini dalam menyajikan contoh tidak disertai dengan gambar. Alangkah baiknya jika contoh disertai dengan gambar maka akan menambah kjelasan bagi pembacanya.

2 komentar:

muhammad alfian mengatakan...

seni Islam memang sesuatu yang luar biasa dan menjadi trandsetter pada zamannya. tapi, sekarang seni dan kebudayaan islam sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan. kenapa seperti ini????

wallahu'alam,,,

muhammad alfian (09410080) :)

Unknown mengatakan...

pada zaman dahulu seni suara masih kental dalam kebudayaan Islam. Banyak orang-orang yang bermunculan dalam bidang seni suara, seperti adanya sholawat, qiraah, dan qosidahan. tetapi, kondisi sekarang ini jauh berbeda, orang-orang sekarang banyak yang meninggalkan sholawat, bahkan ada yang mengatakan seni suara, seperti sholawat, qiraah, dan qosidahan adalah bid'ah. jadi, harus ditinggalkan. Bagaimana melihat kondisi yang demikian?
APRI KUSMIYANI (09410020)

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons