Senin, 26 Maret 2012

RESENSI BUKU; TUGAS SUGENG FITRI AJI

NAMA : SUGENG FITRI AJI
NIM     : 09410177
KELAS: PAI-F 



RESENSI BUKU
A.    Identitas Buku
Judul Buku      : PARADIGMA KEBUDAYAAN ISLAM; (Studi Kritis dan Refleksi Historis).
 Penulis             : Dr. Faisal Ismail, M.A.
 Penerbit           : Titian Ilahi Press
 Tahun              : 1996
 Cetakan           : I (pertama)
 Kota                : Yogyakarta
 Tebal Hal.        : 202 Halaman
 ISBN               : 979-9019-00-1
B.     Abstraksi dan Isi Buku
*      Abstraksi Buku
Buku yang berjudul “Paradigma Kebudayaan Islam; (Studi Kritis dan Refleksi Historis)” ini secara garis besar dibagi menjadi empat bagian. Bagian Pertama, mencoba menyoroti secara umum sosok dan situasi pendidikan dan kebudayaan Islam di Indonesia. Pada bagian ini juga menyajikan dan memaparkan suatu analisis terhadap timbulnya krisis-krisis di bidang pendidikan dan kebudayaan yang dihadapi oleh umat Islam. Kemudian pada bagian akhir ini disampaikan sebuah studi kritis terhadap tesis-tesis kebudayaan yang diajukan Sidi Gazalba.
Bagian Kedua, membahas perihal subordinasi agama terhadap kesenian atau sebaliknya, apa pula akibat yang akan terjadi jika hal itu dilakukan. Pembahasan ini juga dilengkapi dengan sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya seniman muslim memandang, menghayati, mendekati dan menafsirkan Tuhan. Dapatkah Tuhan, Malaikat dan Nabi diimajinasikan atau dipersonifikasikan menurut daya khayal pengambaran sang seniman? Dapatkah seorang seniman Muslim memiliki cara menafsirkan sendiri mengenai Tuhan dengan cara semau gue? Pada bagian inilah penulis sedang berusaha merefleksikan kembali “pengalaman” bergaul dengan seorang seniman.
Bagian Ketiga, mendiskusikan tentang Islam dalam kaitannya dengan moralitas dan modernitas. Bagaimana posisi Islam berhadapan dengan pergeseran nilai-nilai moral yang terjadi di dunia Barat, yang memang pengaruhnya dapat dirasakan disekitar kita. Topik lain yang dikaji dalam pembahasan bagian ini adalah bagaimana pendirian kaum Muslimin dan wawasan Islam berhadapan dengan isu-isu sentral yang bertalian dengan modernisasi.
Kemudian pada bagian Keempat yang terakhir, bagian ini diawali dengan sketsa sejarah kebangkitan kebudayaan Islam (abad 8 hingga 13 M). Setelah menikmati masa-masa keemasan dan kejayaan selama kurang lebih lima abad, umat Islam-Arab dan kebudayaan runtuh, sehingga estafeta kepeloporan di bidang keilmuan dan kebudayaan beralih ke tangan Barat. 
*      Isi Buku
Bagian Pertama
ISLAM DAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Agama merupakn bagian dari kebudayaan. Sebagaimana pendapat Koentjaraningrat yang mengatakan bahwa komponen sistem kepercayaan, sistem upacara dan kelompok-kelompok religius yang menganut sistem kepercayaan dan menjalankan upacara-upacara religious, jelas merupakan ciptaan dan hasil akal manusia.
Potret Kebudayaan di Indonesia
Seorang dramawan, penyair dan budayawan terkenal W.S. Rendra, saat berkhutbah (orasi) kebudayaan di Masjid IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta beliau menyampaikan tiga poin penting yang dikemukakan, antara lain:
Pertama, ummat Islam tidak hadir secara fungsional dalam tata kehidupan masyarakat. Maksudnya eksistensi ummat Islam memang besar, akan tetapi mereka tidak mampu memfungsikan kebesarannya. Dengan kata lain peran ummat Islam dalam masyarakat sangat kecil, tidak sesuai dengan kuantitas dan mayoritas jumlah pemeluknya.
Kedua, ummat Islam seakan-akan bukan sahabat kemanusiaan lagi. Maksudnya, umat Islam telah mundur dalam bidang seni budaya dan science. Padahal dulu umat Islam pernah membangunkan orang-orang Eropa yang ketika itu mendapatkan pancaran cahaya Islam dalam membuka fikiran-fikirandi bidang seni, budaya, “science” dan filsafat.
Ketiga, ummat Islam cenderung menjadi masyarakat tertutup. Penilaian Rendra ini didasarkan pada anggapan kebanyakan umat Islam bahwa ummat Islam adalah ummat yang terbesar. Anggapan ini menurut Rendra akan “meromantisir” diri bahwa ummat Islam adalah semacam dewa-dewa yang tidak boleh dijamah, tidak boleh dikritik, dan tidak boleh disinggung. Hal ini menurut Rendra akan menimbulkan nuansa “onani jiwa” yang mendatangkan kepalsuan dan kesemuan, sehingga jika ada kritik dan gagasan yang datang dari luar Islam, maka ummat Islam gampang tersinggung.
Tiga poin penting di atas menjadi bahan renungan dan introspeksi, menjadi bahan pemikiran yang serius, bagaimana ummat Islam dapat meletakkan dirinya pada proporsi  dan posisi sebenarnya sehingga umat Islam bisa hadir secara fungsional dalam tata kehidupan masyarakat.
            Fanatisme Mazhab, Politik “Devide et Impera”: Biang Krisis
Pada mulanya adalah tetek bengek masalah khilafiyah furu’iyah. Adanya perbedaan faham atau pendapat tentang masalah-masalah furu’ merupakan tanda adanya keleluasan dan kemerdekaan berfikir dalam Islam, sejauh tidak menyimpang dari masalah prinsip esensial dari ajaran Islam. Namun dalam bentuk dan penampilan yang eksesif secara sadar atau tidak mereka telah terkungkung dalam sikap tertutup dengan memagangi klaim-klaim kebenaran atas nuansa mazhabnya sendiri secara ekslusif. Kecenderungan ini telah menimbulkan pertikaian dan pertentangan.
Pertentangan dan pertikaian mazhab ini nampaknya harus diterima secara turun temurun, kadang-kadang “meledak” di beberapa belahan dunia Negara-negara Islam. Termasuk Indonesia sehingga dapat berdampak pada krisis solidaritas dan integritas umat Islam di Indonesia. Sehingga masalah rawan ini dipergunakan dengan empuk oleh rejim atau penjajah untuk kepentingan kekuasaannya. Untuk beberapa decade kenyataan pahit ini berlangsung sehingga melemahkan posisi umat Islam.
Kebudayaan Islam di Indonesia: Nol Besar
Kendatipun benturan pertikaian-pertikaian mazhab pada beberapa kurun waktu terakhir ini tidak lagi  meruncing, namun keadaan ummat Islam dalam aspek kebudayaan nampaknya tidak terlalu mengembirakan. Barangkali yang menjadi penyebab pokok adalah ummat Islam kurang menaruh respek terhadap masalah-masalah kebudayaan pada umumnya. Antuasiasme ummat Islam terhadap persoalan-persoalan kultural hampir dikatakan “nol besar”.
Mereka seakan-akan tidak tahu menahu, acuh-tak acuh, apatis, dan masa bodoh dengan situasi jamannya. Sementara gelombang kultural Barat dalam pelbagai bentuknya yang merangsang semakin menyusup dan melanda kota-kota dan daerah-daerah yang mayoritas berpenduduk Islam.
Aspek lain yang menjadi penyebab krisis kebudayaan Islam di Indonesia adalah adanya anggapan yang keliru di sementara kalangan umat Islam yang mengasosiasikan Islam hanya sebagai ibadat, padahal bidang garapan Islam tidak hanya terbatas pada masalah-masalah peribadatan dalam arti sempit  dan formal seperti shalat, puasa, haji dan lainnya. Jadi secara ringkas, bidang garapan Islam adalah meliputi seluruh segi kehidupan, baik kehidupan dunia maupun akhirat.
Bagian Kedua
KEBERIMANAN DAN KEBERSENIMANAN
Subordinasi Kesenian kepada Agama
Subordinasi kesenian kepada agama menimbulkan akibat-akibat yang menyangkut kedua symbol itu. Terhadap kesenian, akibatnya negatifnya ialah:
a.       Terikatnya bentuk dan isi kesenian kepada agama yang berpretensi abadi
b.      Timbul ketegangan antara nilai-nilai agama termasuk hukum-hukumnya yang keras dengan nilai-nilai kesenian yang longgar
c.       Penggunaan kesenian untuk tujuan praktek agama akan membatasi ruang gerak kesenian
d.      Kebebasan mencipta terganggu oleh ingatan tentang norma-norma.
Sedangkan pada sisi positifnya adalah nampaknya sosok kebesaran agama yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. 
Bagian Ketiga
ISLAM MORALITAS DAN MODERNITAS
Bagian ini, dibahas tentang islam dan gemerlap dunia mode  dimana dunia mode adalah dunia yang penuh pesona. Dunia mode adalah dunia yang gemerlap. Apabila kita amati secara seksama mengikuti perkembangan dunua mode, maka sesuatu yang tampak jelas adalah mode itu tidak statis, tetapi terus menerus mengalami perubahan. Islam sendiri tidak menolak mode, memang didalam al-qur’an dan hadits tidak menyinggung mode pakaian, akan tetapi prinsip menutup aurat yang terdapat dalam Al-qur’an maupun hadits sudah terpenuhi maka pakaian macam apapun bentuk dan potongannya tidak menjadi persoalan.
Bagian Keempat
ISLAM DAN KEBUDAYAAN YANG GLOBAL
 Situasi yang melatarbelakangi dunia dewasa ini memang memungkinkan Islam untuk hadir dan tampil kembali. Dinamika Islam dalam kebudayaan sebagaimana telah dicapainya pada masa-masa keemasannya diharpkan bisa tampil kembali dan sekaligus menjadi penggerak bagi munculnya kejayaan budaya baru di masa depan. Kejayaan ini hanya akan muncul jika dinamika Islam benar-benar dapat menyentuh dan membangkitkan seluruh rangsangan budaya. Untuk itu sikap cultural yang kreatif harus tumbuh dan menggelora dalam dunia global Islam.
     C.    Kelebihan Buku
Buku yang sengaja disajikan sarat dengan kritis dan refleksi mengenai kebudayaan Islam dari era kejayaan Islam ratusan abad lalu. Hal ini menjadikan kelebihan tersendiri, karena para pembaca dan khusunya umat Muslim maka akan bangun dari kenyamanan hidupnya selama ini. Dikarenakan substansi isinya dapat memberikan manfaat buat kita untuk mempunyai cita-cita bangkit kembali. Kemudian kelebihan lainnya ialah terletak pada bahasanya yang enak di baca, karena disajikan secara narasi (cerita). Bagi para akademisi dan orang awan ketika akan membaca buku ini tidak mendapati kesulitan dalam memahami. Satu lagi, yaitu pada ketebalan buku ini tidak terlalu tebal, sehingga membuat para pembaca tidak merasakan kebosanan yang begitu besar. 
     D.    Kelemahan Buku
“Innal insanna mahalul khotoi wa nisyani” (sesungguhnya manusia itu tidak bisa lepas dari salah dan lupa). Dan tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya miliki Allah, begitulah ungkapan yang mungkin sudah sering kita dengar bersama. Betapapun menariknya buku ini, pasti ada saja kekurangan di dalamnya, yaitu minimnya sekali dalil aqli maupun naqli yang dipaparkan dalam buku ini sebagai bentuk landasan atau untuk dasar penguat argumen dan gagasannya. Karena akan lebih baiknya lagi, jika dalam buku ini ada dalil sebagai penguat dan dasar landasannya. Kemudian dari segi desingnya pun masih sedikit kurang baik menarik serta tertata dengan baik, sehingga para pembaca harus dituntut untuk lebih teliti dan cermat dalam memahami keseluruhan buku ini. 

Matur Nuwun,,,, ^.^
Yogyakarta, 25 Maret 2012: di Dermaga Sunyi.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Sebenarnya kebangkitan Islam dan kebudayaannya tergantung kepada umat Islam sendiri, tergantung pada amal-amal kultural yang dilakukannya, Islam harus tampil untuk menolong paradaban dunia dan menolong seluruh dunia kemanusiaan.
Apresiatif tuk resensinya…

Yuni Irawati(09410101)

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons