Selasa, 27 Maret 2012

Resensi Buku (Samsul Arifin 09410010)


Nama              : Samsul Arifin
NIM                : 09410010

Identitas Buku
Judul Buku      : Islam dan Seni
Pengarang       : DR. Yusuf Qaradhawi
Tahun Terbit   : Cetakan pertama, Mei 2000
Penerbit           : Pustaka Hidayah
Kota terbit       : Bandung
Islam dan Seni
Ketika berbicara masalah yang menyangkut masyarakat muslim berkenaan dengan kesenian hal ini menjadi sebuah pembicaraan yang rumit untuk dibicarakan. Hal ini terjadi karena dalam masalah ini banyak orang terjebak diantara dua sisi yang berseberangan, sikap terlalu kuat terhadap agama dan sikap terlalu longgar. Kondisi seperti ini lebih memudahkan orang untuk bersikap ketat disatu sisi namun lebih bersikap longgar di sisi lain.
Dalam buku ini dijelaskan berbagai wacana akan pergulatan Islam dan seni diantaranya:
1.      Islam dan interaksi dengan manusia seutuhnya
Islam adalah agama yang benar-benar ada dan nyata. Ia berinteraksi dengan manusia seutuhnya: tubuh dan jiwanya, akal dan hatinya. Islam menuntut agar manusia member “makanan kepada semua itu dengan sesuatu yang dapat  memuaskan kebutuhannya dalam batas-batas yang seimbang.
2.      Perhatian al-qur’an atas keindahan alam raya
Apabila jiwa kesenian adalah bagaimana merasakan dan mengecap keindahan, maka inilah yang hendak di ingatkan dan ditegaskan oleh al-qur’an mengenai keindahan. Penegasan ini terdapat lebih dari satu tempat didalam al-qur’an
3.      Apresiasi Kaum mukmin terhadap keindahan
Orang yang membaca dan merenungkan ayat-ayat suci al-qur’an melihat dengan jelas bahwa al-qur’an ingin menanamkan ke dalam fikiran dan qalbu setiap mukmin rasa keindahan yang bertebaran diseluruh penjuru jagat raya. Tentang keindahan Allah SWT  berfirman dalam Q.S An-Nahl ayat 6 : “kalian memperoleh pemandangan yang indah padanya, ketika kalian membawanya kembali ke kandang dan ketika kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan”
4.      Alqur’an mukjizat Keindahan
Al-qur’an dipandang sebagai mu’jizat keindahan selain mu’jizat intelektual, karena Al-qur’an dapat melumpuhkan keahlian  bangsa Arab dengan keindahan pengungkapannya.
Dari keempat hal tersebut menjadi bukti bahwa Islam pada dasarnya sangat mengapresiasi sebuah kesenian, walaupun Islam mempunyai batas-batasan yang tidak boleh dilalui atau diatasnamakan sebagai sebuah kesenian. Maksudnya sepanjang kesenian tersebut tidak melampaui/melanggar nilai-nilai dalam Islam maka Islam akan tetap mengapresiasinya
Kelebihan Buku
11. Susunan kalimat yang dituangkan oleh penulis dalam bukunya ini mudah dipahami oleh pembaca sehingga maksud yang ada dari buku kecil ini mudah untuk ditangkap
22. Penulis dalam melakukan penulisannya tidak berbelit-belit, maksdunya alur tulisan, gaya bahasa serta isi dari buku ini diungkapkan secara detai lsehingga membuat paembaca kaya akan tambahan wawasan, informasi baru
Kekurangan Buku
Pada dasarnya apa yang telah disajikan dalam buku ini sudah cukup bagus, akan tetapi padangan penulis masih ada beberapa catatan yang perlu untuk diperbaiki yaitu penyajian contoh-contohnya kurang maksimal serta dalam penyajiannya lebih bagus lagi disertai dengan contoh gambar sehingga memudah kan pembaca untuk menangkap maksud dari penulis.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Di dalam Al Qur'an telah dipaparkan tentang keindahan yang merupakan unsur dalam kesenian. Dengan demikian kita telah diajarkan untuk meningkatkan imajinasi,kreativitas yang telah dianugrahkan oleh Allah dengan tetap berpedoman pada Al Qur'an dan Al Hadist. SOlihati (09410279)

Unknown mengatakan...

salah satu mukjizat Al-Qur’an adalah bahasanya yang sangat indah, sehingga para sastrawan arab dan bangsa arab pada umumnya merasa kalah berhadapan dengan keindahan sastranya, keunggulan pola redaksinya, spesifikasi irama, serta alur bahasanya, hingga sebagian mereka menyebutnya sebagai sihir.

Dalam membacanya, kita dituntut untuk menggabungkan keindahan suara dan akurasi bacaannya dengan irama tilawahnya sekaligus.
Rasulullah bersabda :
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Darimi)

Maka manusia menyukai kesenian sebagai representasi dari fitrahnya mencintai keindahan. Dan tak bisa dipisahkan lagi antara kesenian dengan kehidupan manusia.

arip febrianto 09410166

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons