Minggu, 15 April 2012

RESESNSI BUKU (seni peradaban Islam)


Nama   : M Fathul Muslim (09410187)
Kelas   : PAI-VI-F
o   Tugas resensi buku, dengan identitas buku sebagai berikut:
Judul: Seni di Dalam Pradaban Islam
Pengarang: Muhammad Abdul Jabbar
penerbit: Pustaka, kota Bandung
tahun: 1981
Jumlah halaman: 153 hlm

Pendahuluan—buku karya Muhammad Abdul Jabbar tersebut sangat menarik untuk saya resensi, karna di dalamnya termuat banyak hal terkait dengan bagaimana eksistensi seni di dalam tubuh islam, sejak zaman kuno (pra islam) sampai waktu dimana islam menapakan kaki di medan kejayaan. Resensi ini saya buat sesuai bab yang tertera dalam buku, berikut resensinya....

1.      Kedudukan seni dalam kebudayaan islam
Sebagai agama monoteistis, islam mengisikan suatu sikap yang baru ke dalam jiwa pemeluknya. Ciri-ciri sikap rohaniyah kaum muslim nampak pada setiap kegiatan kebudayaan, termasuk kesenian dan kerajinan. Pusat daya normatif seni kaum muslim adalah islam itu sendiri. Para tukang dan seniman muslim berusaha menampilkan cita keesaan tuhan (tauhid) dalam karya seninya. Agama islam tidak menggariskan bentuk-bentuk seni  tertentu, tetapi sekedar memberi pagar lapangan ekspresi. Misalnya, islam tidak mengizinkan jenis puisi tertentu yang sifatnya tidak islamis. Akibatnya, banyak syair arab masa pra islam mendapat kritikan. Puisi sebagai bentuk kesenian tidaklah ditinggalkan oleh kaum muslimin, pada saat para penyair mengubah isi-isi puisinya sesuai citarasa islam dan mengungkapkan cita-cita islam lewat syair, para penyair itu kembali memperoleh tempatnya semula dalam masyarakat islam pada wktu itu.
Menurut Al-Ghozali, yang menarik dari objek seni adalah niali keindahan dalam-dalam. Ia juga mengkaitkan keindahan dengan Tuhan dan mendasarkan pendapatnya atas Hadits Nabi, “Tuhan itu indah, dan Ia menyukai keindahan”.
Kesenian dalam peradaban islam bukanlah hasil dari sebuah ras atau negeri saja, akan tetapi merupakan perkembangan dari berbagai ras manusia yang melakukan ajaran islam di banyak negara pada berbagai masa dalam sejarah.
2.      Keindahan menurut Al-Ghozali
Menurut Al-Ghozali segala sesuatu yang indah itu dicintai, karena keindahan itu memberi kesenangan, sebagaimana yang nampak kemudian bahwa keindahan itu seiring dengan kesempurnaan. Ketika Al-Ghozali menerangkan hal itu sebagai akibat dari cinta diri sendiri, maka manusia menginginkan bahwa apa yang ada di sekelilingnya hanyalah hal-hal yang sempurna, ia juga memberi petunjuk kepada kita mengenai dorongan manusia terhadap benda-benda indah di sekelilingnya.
Al-Ghozali memberikan inti pemikiranya ini dalam catatannya yang mengatakan “keindahan dari sesuatu hal terletak pada kenampakan kesempurnaan yang dapat dilihat, dan sesuatu dengan fitrahnya. Apabila seluruh kemungkinan sifat kesempurnaan terdapat dalam suatu objek, maka objek itu menjelmakan tingkat keindahan tertinggi apabila hanya terdapat sebagian saja, maka objek itu memiliki ukuran keindahan dalam tingkat kesempurnaan tertentu. Terlepas dari nilai-nilai keindahan yang dapat diterima dengan indra kelima kita, Al-Ghozali menyebut adanya indera ke-enam, yaitu “jiwa”, “roh”,”hati”, dan “akal”,”cahaya” yang menerima keindahan dunia dalam, yang bersifat rohani, moral, dan nilai keagamaan.
Bagi Al-Ghozali keindahan tidak dapat dipisahkan dari gagasanya tentang keindahan, dan khususnya, mengenai cinta kepada Tuhan.
3.      Musik relegius islam
Salah satu kecenderungan filologi bahasa arab yang menggugah keingintahuan kita ialah adanya hubungan yang erat antara musik dan sihir (magic). Ini disebabkan oleh kepercayaan magic musik yang dikomat kamitkan dengan suara berdengung oleh para ahli sihir kafir pada zaman arab kuno. Ketika islam miuncul di tengah dunia penyembahan berhala ini, Nabi Muhammad menyerukan kutuk atas praktek-praktek ini.
Musik relegius harus dibuat berbeda dengan kehidupan sekuler. Nyanyian dalam kehidupan sekuler disebut Ghina’, dan dalam kehidupan agama disebut sebagai ta’bir,  yaitu sebuah “penafsiran”, jadi musik yang yang diterima islam adalah musik religi yang diakui.


4.      Muslim dan tashwir
Kebanyakan para orientalis mengatakan bahwa, tashwir dilarang berdasarkan ayat:
“hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya(minuman) arak, berjudi, al anshub, dan mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan kotor, termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keneruntungan.” (Al-Qur’an, Al-Maidah,5:90). Para orientalis ini menafsirkan kata Al-Anshab sebagai patung dan pekerjaan membuatnya adalah perbuatan kotor. An-Nasafi berkata, “al-anshab adalah berhala (ashnam), dan berhala itu kotor karena didirikan dan disembah.” Dalam hal ini, kita dapat mengatakan, bahwa patung itu kotor dan orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menjauhinya karena patung itu disembah di samping Allah. Apabila patung-patung itu tidak disembah, saya yakin dengan demikian patung itu tidak kotor dan kaum muslim tidak perlu menjauhinya.
5.      Kehalalan seni lukis di masa awal islam
Lukisan Qushair ‘Amra, secara tak terelakan  muncul di tengah ramainya pertanyaan tentang halal tidaknya seni lukis dalam islam. pun pada sekarang ini, keyakinan yang umum dianut orang adalah, bahwa segala bentuk lukisan dengan landasan ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas- dilarang, tetapi itu tidak ada, sebagaimana sering ditunjukan oleh para orientalis.
6.      Seni rupa muslim
Kecenderungan yang ditunjukan seni rupa islam adalah kecintaanya pada abstraksi. Perestasi seni rupa muslim yang sukses luar biasa, terbesar dan paling akrab dengan jiwa kaum muslim adalah kaligrafi (seni menulis indah). Kaum muslim memilih kaligrafi sebagai media utama pernyataan rasa keindahannya karena tak ada bentuk seni lainnya yang mengandung abstraksi yang demikian lengkap dan mutlak
7.      Islam dan arsitektur
Banyak orang muslim dan non muslim yang meragukwa islam sedikit banyaknya mempunyai hubungan dengan arsitektur, keraguan mereka itu barangkali karena mereka tidak tahu atau karena mereka keliru, atau karena kedua-duanya. Yang pertama, pihak yang tidak tahu, yaitu orang-orang muslim yang tidak mengetahui bahwa:
a.       Sebelum kedatangan islam, kesatuan arsitektural belum ada. Kesatuan arsitektural muncul dan hadir bersama-sama islam, yaitu ketika arsitektur khas islam mulai mendominasi gaya arsitektur muslim yang memperbolehkan munculnya variasi-variasib untuk hal-hal yang tidak esensial, agar dapat menyesuaikan diri dengan iklim setempat, atau dengan hal-hal istimewa yang merupakan warisan “nenek moyang”
b.      Karakteristik gaya-gaya arsitektur yang terdapat di seluruh dunia muslim itu dilengkapi dan diilhami oleh islam. seluruh ketentuan arsitektur yang eektif (tepat guna) telah mereka mula di jantung negeri islam (Madinah, Bait AlMaqdis, Dimasyq, dll), dan dari sana menyebar ke seluruh dunia islam seiring dengan perkembangan islam.
c.       Merupakan suatu kekurangan yang mengerikan apabila islam mengabaikan pengaruh arsitektur masyarakatnya.

Mungkin itu yang bisa saya sajikan dalam resensi buku yang berjdul Seni di Dalam Pradaban Islam, karya Muhammad Abdul Jabbar.
Kelebihan dari buku: buku tersebut disajikan dengan bahasa yang sederhana, sehingga mudah untuk difahami, isinya lebih lengkap, segala referensi dari tulisannya tertulis jelas.
Kekurangan: buku tersebut sepertinya kurang sistematis dalam penulisanya, dari 1 bab ke bab berikutnya masih terasa jauh bahasan materinya. pembahasanya kurang mendalam mungkin ya, ya mungkin karena banyak sub topik yang disampaikan.
Trimakasih itu mungkin kritik dan masukan dari saya,, kurang lebihnya mohon maaf.

REVIEW BUKU SENI DI DALAM PERADABAN ISLAM (ANASTASIA DANSY NOVITASARI)


Anastasia Dansy Novitasari/ PAI F/ 09410156
 
REVIEW BUKU

Judul Buku : Seni di Dalam Peradaban Islam
Pengarang : Muhammad Abdul Jabbar
Kota Terbit : Bandung
Penerbit : Pustaka
Tahun Terbit : 1981
Tebal Buku : 153 halaman

Pendahuluan
Buku yang berjudul Seni di Dalam Peradaban Islam saya pilih karena di dalamnya terdapat pembahasan-pembahasan yang lengkap tentang seni dan budaya Islam. Dalam daftar isinya antara lain: Kedudukan Seni Dalam Kebudayaan Islam, Keindahan Menurut Al-Ghazali, Musik Religius Islam, Muslim dan Tashwir, Kehalalan Seni Lukis di Masa Awal Islam, Seni Rupa Muslim, Islam dan Arsitektur, Corak Islam dalam Arsitektur Spanyol dan Amerika Latin. Saya melihat dari daftar isinya tersebut langsung tertarik untuk mencoba mereview buku itu karena ada pembahasan tentang kedudukan seni dalam kebudayaan Islam, yang jelas berkaitan dengan mata kuliah Pengembangan Budaya dan Seni dalam PAI.

Latar Belakang dan Urgensi Buku Yang Dibahas
Adanya sikap negatif yang berkembang terhadap seni tertentu karena kebiasaan di kalangan umat Muslim yang memandang para ulama sangat tinggi, maka muncullah dilema dalam pikiran kaum Muslim berkenaan dengan seni lukis, musik, syair, nyanyian, dan bentuk-bentuk seni lainnya yang mereka senangi. Inilah yang menjadi penghalang bagi kaum Muslim untuk mendekati berbagai jenis bentuk seni tersebut.
Hal itulah yang menjadikan adanya kebutuhan akan buku bacaan tentang seni orang-orang Muslim. Artikel-artikel yang berkenaan dengan seni, baik yang ditulis oleh penulis Muslim maupun penulis non Muslim, dalam rangka mendudukkan persoalan tersebut dalam perspektif yang sebenarnya. Dengan kandungan maksud yang besar itulah, buku ini disajikan untuk memberi penerangan kepada pembaca di dalam peradaban Islam.

Pembahasan/ Overview Keseluruhan Isi Buku dan Manfaat Buku
Pada bab Kedudukan Seni dalam Kebudayaan Islam, menyimpulkan bahwa setiap negara Islam, memiliki kebudayaan nasionalnya, dan demikian pula semua negara. Islam memiliki peradaban Islam yang umum. Seni Islam adalah pernyataan dari peradaban, dan bukan pernyataan kebudayaan.
Pada bab Keindahan Menurut Al-Ghazali, di dalamnya terdapat gagasan-gagasan yang mempunyai pengaruh yang sama atau bahkan lebih besar dari tulisan-tulisan keagamaan yang lainnya. Namun demikian, kehadiran buku-buku karangan Al-Ghazali itu sangat penting dan mesti dipertimbangkan di dalam penilaian kita tentang seni Muslim.
Pada bab Musik Religius Islam, menyimpulkan bahwa dengan nyanyian atau musik religi, kita akan memperoleh kegembiraan sosial dan kepuasan religi dalam nyanyian bersama. Setiap orang melahirkan (mengungkapkan) makna religi yang dalam dengan paduan suara yang mendesak di tengah-tengah rakyat banyak.
Pada bab Pertentangan Pendapat Mengenai Gambar dalam Peradaban Islam (Muslim dan Tashwir, Kehalalan Seni Lukis dalam Masa Awal Islam), menyimpulkan bahwa kaum muslim telah memecahkan masalah mereka terhadap soal gambar, dan mengganti haluan pemikiran mereka pada suatu saat dan untuk selamanya terhadap pertanyaan yang mereka butuhkan tentang lukisan Islam. Para siswa yang menekuni peradaban Islam tidak dapat mengabaikan warisan lukisan-lukisan yang indah dari para seniman Muslim pada masa klasik dan masa sesudah masa klasik.
Pada bab Seni Rupa Muslim, menyimpulkan bahwa obsesi kaum Muslim terhadap abstraksi merupakan hasil ajaran Islam, dan hal itu menemukan bentuk ekspresi utamanya dalam kerinduan mistis pada Tuhan. Psikologi yang diajarkan Islam meresap dan memanifestasikan dirinya dalam setiap lingkungan seninya. Bagian yang lebih besar yang  dimainkan oleh gagasan-gagasan mistis dalam puisi. Volume puisi mistis dan kepopuleran mistikisme dalam semua pokok Islam adalah sejalan, yaitu semangat yang mengekspresikan dirinya sendiri dalam semua jalan, di mana para genius Muslim mencoba untuk menemukan suatu ekspresi.
Pada bab Islam dan Arsitektur, menyimpulkan bahwa hubungan Islam dan arsitektur adalah; pertama, di seluruh dunia Muslim, kesatuan arsitektural merupakan salah satu segi dari kesatuan umat di bawah Islam, karakteristik gaya-gaya arsitektur yang terdapat di seluruh dunia Muslim itu dilengkapi dan diilhami oleh Islam, merupakan suatu kekurangan yang mengerikan apabila Islam mengabaikan pengaruh arsitektur masyarakatnya. Kedua, pihak yang berpandangan keliru, yaitu orang-orang Muslim dan orientalist yang berpegang teguh pada tesis: bahwa tidak ada hubungan antara Islam dan arsitektur.
Pada bab terakhir, Corak Islam dalam Arsitektur Spanyol dan Amerika Latin, menyimpulkan bahwa dalam bidang seni dan arsitektur, hasil praktis dari adanya gerakan kebudayaan tersebut berupa penyempurnaan corak serta tema-tema artistik, yang secara intim menafsirkan cita-cita Islam ke dalam rinci-rinci (details) pembuatan barang kerajinan serta arsitektur.
Setelah membaca buku Seni di Dalam Peradaban Islam, manfaat yang dapat diambil yaitu kita dapat mengetahui tentang bagaimana kedudukan seni dalam kebudayaan Islam, buku tersebut memberikan berbagai macam informasi tentang corak kebudayaan Islam, gagasan-gagasan para filosof dan seniman Muslim, hubungan antara seni dan Islam, serta pendapat-pendapat lain tentang seni dalam Islam.

Analisis Kajian yang Dianggap Penting Oleh Pereview
Kajian dalam buku ini yang menurut saya penting yaitu pada bab Kedudukan Seni dalam Kebudayaan Islam, karena pada bab ini membahas tentang peradaban Islam secara keseluruhan. Peradaban Islam mulai muncul di permukaan ketika terjadi hubungan timbal-balik antara peradaban orang-orang Arab dengan bermacam peradaban penduduk asli di Timur Tengah dan di Timur Dekat, serta percampuran beberapa tradisi kebudayaan di bawah naungan Islam. Pada mulanya, Islam tidak memerlukan sesuatu bentuk kesenian, tetapi bersama jalannya sang waktu, kaum Muslim dari beraneka kebangsaan telah mewujudkan karya-karya bernilai seni sebagai perantara pengungkapan pandangan hidupnya yang khas.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan buku ini yaitu isi dari buku ini lebih lengkap daripada buku-buku tentang seni dalam Islam yang lainnya. Membahas kedudukan seni dalam kebudayaan Islam secara lengkap. Bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca, simpel, dilengkapi dengan footnote dan arti kata-kata asing.
Kekurangan buku ini yaitu ada footnote yang ditulis terlalu panjang, dan penulisan footnote secara lengkapnya tidak menjadi satu halaman dengan kata-kata yang dikutip dari buku sumber/ referensi. Mungkin hanya itu kelebihan dan kekurangan dari buku tersebut yang saya temukan.

Penutup
Demikianlah review buku yang berjudul Seni di Dalam Peradaban Islam yang dapat saya sampaikan. Mungkin masih banyak sekali kekurangan dalam review buku ini. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan untuk lebih baiknya lagi dalam mereview buku.

ISLAM DAN SENI RUPA ( 09410001 )


A. IDENTITAS BUKU
JUDUL BUKU : ISLAM DAN SENI RUPA
PENULIS : AGUNGPUSPITO
PENERBIT : WEDATAMA WIDYA SASTRA
TAHUN TERBIT : 2007
PERESENSI : NUR DIAN PUTRANTO ( 09410001 )

B. IDENTITAS BUKU
Dua hari yang lalu saya menemukan sebuah buku yang saya pikir cukup menarik untuk diresensi, buku tersebut berjudul islam dan seni rupa, yang ditulis oleh agung puspito penerbit wedatama widya sastra .2007. Buku ini cukup merangsang orang membaca menggunakan kebebasan berpikir dan terutama menggunakan hati untuk mempersepsikan hal-hal yang selama ini mungkin pernah didengar, tapi tak sampai menyentuh hati. Dibuku ini seni visual atau seni rupa merupakan benang merah yang difokuskan dalam tema yang ada dalam buku ini,namun buku ini bukanlah buku mengenai pendidikan seni rupa dalam pengertian skolastik, namun buku ini mencoba menjawab sebuah pertanyaan besar yang seringkali masih saja dipermasalahan dalam kalangan umat islam yakni “ bagaimana sebenarnya islam memadang seni rupa “
Pada buku ini penulis mencoba menjelaskan hubungan antara islam dan seni rupa,penulis mencoba menganalisa seberapa besar pengaruh islam terhadap kesenian di indonesai. Penulis beranggapan bahwa sangat kecil pengaruh islam terhadap kesenian di indonesia kecuali kaligrafi dan masjid. Pada zaman islam,saat mayoritas penduduk indonesia telah memluk islam, negeri kepulauan ini seolah tidak memiliki hasil kesenian yang mengesankan,sangat berbeda seperti pada zaman megalitikum dengan batu besarnya yang terkenal,hindu-budhadengan candi-candinya hingga kolonialisme belanda dengan seni lukis barat yang hingga kini masih populer yakni cat minyak diatas kanvas. Dan akhirnya didapatkan suatu suatu pertanyaan bahwa apakah islam itu mengajarkan kesenian.
            Penulis mencoba mnghubungkan antara agama dan seni. menurut seni rupa adalah produk budaya dan islam adalah bukan merupakan produk budaya. Karena islam bukan merupakan suatu budaya maka menurut penulis yang dimaksud dengan kesenian islam tidak mengacu kepada jenis budaya tertentu yang bersifat lokal. Kesenian islam tentunya kesenian yang setidaknya tidak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan akidah ataupun akhlak islam.tari perut walaupun berasal dari daerah penduduk muslim di timur tengah,bukanlah kesenian yang islami karena beretntangan dengan akhlak-akhlak islam.
            Berikutnya penulis mengkritisi tentang boleh tidaknya penggambaran manusia.pertanyaan ini mengantarkan kita kepada tinjauan seni berdasarkan syariat ( hukum islam ).kontroversi mengenai larangan menggambar,patung atau fotografi sebetulnya berpangkal dari penafsiran terhadap larangan yang dimaksud.Penafsiran itu berasal dari hadits rasulullah.namun menurut penulis para penafsir tersebut tidak menyebutkan adanya larangan yang sama yang berasal dari ayat al-quran. Penulis sendiri beranggapan bahwa asbabul wurud hadits mengenai pencitraan makhluk hidup,didapatkan gambaran bahwa larangan ini mengacu kepada pencitraan dalam kategori tertentu yang memperoleh status berhala.Praktek pemujaan ini merajalela pada waktu berkembangnya islam. Maka dengan hal ini penulis menyimpulkan bahwa larangan melukis bentuk mahkluk bernyawa pada awal lahirnya agama islam memang perlu jika dipandang dari segi tauhid, tetapi ketika hakekat tauhid telah mendarah daging dalam tubuh umat islam dan mereka tahu patung-patung itu tidak sanggup berbuat apapun,maka tidak ada alasan bahwa kepercayaan yang telah terkubur akan hidup di tengah keyakinan umat islam yang telah maju. Disinilah kita menemukan divergensi antara seni dan berhala.yang jelas,image berupa patung ataupun gambar berhala itu telah populer dikalangan arab jahiliyah,sehingga penulis menyebutkan larangan pembuatan imaji yang terdapat dalam bebrapa hadits adalah yang terkait dengan fisik berhala ini. Menurutnya seni digolongkan kedalam ibadah muamalat dengan aturan main bahwa semua boleh kecuali ada nash yang melarangnya.Bahkan semua karya seni selama tidak melanggar akhlak islami adalah diperbolehkan .Sebuah definisi yang longgar yang justru memberikan kesempatan kepada para seniman untuk terus berkarya  

C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Sebagai penulis yang menggunakan konsep penulisan yang menarik,yakni dibuat dengan menghadirkan realitas tentang seni rupa dalam kehidupan sehari-hari .Buku ini saya pikir merupakan pikiran penulis sendiri bisa dilihat dari alur bahsa yang digunakan.Pembaca didorong untuk mampu mentafsirkan sendiri sehingga buku ini menjadi tambah menarik. Namun disisi lain buku ini secara tata bahasa masih sulit  dipahami

D. MANFAAT
Buku ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita terutama mengenai bahasan seni rupa dan pengetahuan kita akan hubungan seni rupa dan islam

Sabtu, 14 April 2012

resensi (SENI MENDIDIK DALAM PENDIDIKAN )

SENI MENDIDIK DALAM PENDIDIKAN
Improvasi Memanusiakan Manusia Via Pendidikan
Judul Buku    : SENI MENDIDIK DALAM PENDIDIKAN 
“ Improvasi Memanusiakan Manusia Via Pendidikan”
Pengarang              : Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M. Pd
Penerbit                 : Absolute Media
Kota terbit            : Purbayan, Kotagede, Yogyakarta
Tahun Terbit          : 2011
Jumlah Halaman   : (177 halaman + cover)
Panjang dan lebar : 21 cm dan 16 cm 
Peresensi              : Fajron Mujahid

Pendidik merupakan tenaga professional yang pekerjaan utamanya adalah mengajar dan mendidik sebagai pengabdian pada komunitas belajar baik secara makro maupun mikro. Dengan menyuguhkan berbagai okestra dalam proses pembelajaran. Maka oleh karena itu pendidik tidak lagi sebagai sentral dalam pembelajaran (focus oriented in proses learning) akan tetapi pendidik harus sebagai sarana bagi peserta didik fasilitstor dalam pembelajaran tersebut guna memenuhi kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik mudah dan bahkan senag dalam engikuti proses pembelajaran.
Sekoah-sekolah yang ada pada saat ini  kebanyakan hanya menerjemahkan transfer of knowledge dari pendidik kepada peserta didik.  Sehingga peserta didik hanya di beri materi-materi yang perlu di hafal, dengan kata lain model yang dikembangkan pendidik adalah model pendidikan berbasis banking aducation, yaitu model pendidikan yang tidak kritis, karena hanya diarahkan pada penjinakan, penyesuaian sosial dengan keadaan penindasan. Hal tersebut akan mengakibatkan patahnya kreativitas peserta didik, karena pendidik hanya mengedepankan aspek verbalism.
Akibat dari kedua hal tersebut (banking education dan verbalism), menadikan seolah-olah pendidikan tidak membutuhkan fakta sosial secara riil. Sehingga disana serasa akan adanya dikotomi anatara keduanya. Hal tersebut terbukti dengan adanya pendidikan yang semakin elitis dengan fakta sosial yang melingkari dunia pendidikan.
Maka dari itu dalam buku ini penulis merasa perihatin akan adanya fakta tersebut, sehingga hasil dari perenungan melalui teori yang dikembangkan guna mencapai tujuan pendidikan yang sempurna dan ideal melalui seni dalam pembelajaran dengan semangat humanismenya. Buku ini mengajak pembaca untuk mengeksplorasi, mengekplanasi dan mengelaborasi segala bentuk strategi pembelajaran yang ada dalam sekolah manapun. 
Melalui buku ini juga penulis mencoba merangkai rajutan teori  dan juga mengeplorasi sumber yang autentik guna untuk dijadikan rujukan pengembangan teori yang lain. Dengan memberikan celah untuk mendiskusikannya lebih komprehensif tentang sistem nilai kehidupan pendidikan yang lengkap, ternasuk seni dalam pembelajaran untuk menjadikan manusia yang mmanusiawi. 

Resensi buku Islamiyah Nur Jannah (09410263)


PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, DAN MASYARAKAT MADANI
DI INDONESIA


A.      Identitas Buku
Judul buku      : Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia
Pengarang       : Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M. Sc. Ed
Penerbit           : PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Tahun              : Cetakan ketiga, Oktober 2002
Tebal buku      : 251 hlm+cover
Peresensi         : Islamiyah Nur Jannah (09410263)

B.       Isi Buku
Buku ini dengan gamblang memamaparkan bagaimana pentingnya pendidikan dalam memperkuat kebudayaan begitu juga bagaimana pentingnya kebudayaan yang akan membentuk pendidikan yang berkepribadian dalam rangka menciptakan masyarakat madani Indonesia, yakni sebuah masyarakat yang paripurna yang dicita-citakan bersama. Jika pendidikan dan kebudayaan saling memperkuat saling ketergantungan secara positif, amaka akan tercipta masyarakat madani Indonesia yang bercirikan seperti adanya kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara dan keterkaitan pada nilai-nilai hukuam yang disepakati bersama.
Dalam buku ini, pembangunan tersebut lebih di fokuskan pada tiga elemen yaitu pendidikan, kebudayaan dan masyarakat madani. Ketiga elemen tersebut saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Hubungan itu meliputi pendidikan dalam kebudayaan, kebudayaan dalam pendidikan, manusia berpendidikan dan manusia berbudaya, dan pendidikan untuk masyarakat madani Indonesia.
Pendidikan tidak dapat terlepas dari kebudayaan dan hanya terlaksana dalam suatu masyarakat. Sehingga, ketiga elemen tersebut saling berhubungan. Kebudayaan merupakan dasar pendidikan dan terbentuknya kepribadian bangsa Indonesia. Dari budaya ini akan terbentuk identitas seseorang dan merupakan gerbang budaya global dalam dunia terbuka sekarang ini. Budaya tersebut haruslah bersifat dinamis. Sebab, kalau budayanya statis maka pendidikannya juga tidak tertranformasi. Secara langsung maka masyarakatnya juga akan mati.
Suatu pendidikan dan kebudayaan tidak akan pernah terbentuk tanpa adanya masyarakat di dalamnya. Elemen inilah yang merupakan ujung tombak dari kedua elemen lainnya. Harapan dari semua itu adalah supaya terbentuk masyarakat milenium ketiga. Masyarakat ini harus mampu mewujudkan nilai-nilai yang universal sesuai pada kondisi dan perkembangan masyarakat sekitar. Selain usaha seperti itu, type masyarakat ini juga memerlukan tantangan-tantangan ekstren dalam menghadapi era globalisasi. Semua itu harus didasarkan pada pengembangan manusia yang intelek, bertaqwa dan bermoral (Imtek dan Imtaq). 

C.      Kelebihan dan Kekurangan
Dalam buku diilihat dari segi isinya, buku ini sangat banyak wacana baru yang diungkapkan, sehingga dapat menambah khasanah keilmuwan bagi pembaca secara mendalam. Berkaitan dengan penulisan, alur yang telah dibawakan oleh penulis cukup jelas sehingga pembaca mudah untuk memahami maksud dari isi buku. Namun dalam pemilihan kata yang digunakan oleh penulis terlalu tinggi untuk kalangan muda, sehingga apa yang dimaksud dari penulisan buku tersebut kurang di mengerti.

D.      Manfaat
            Buku ini sangat cocok untuk kalangan akademisi, dalam rangka  membuka cakrawala pengetahuan yang lebih mendalam tentang kebudayaan, pendidikan, dan masyarakat. Dalam buku ini menguraikan bagaimana pendidikan dapat membentuk masyarakat madani Indonesia dan bagaimana pendidikan nasional dapat menghadapi tantangan-tantangan kehidupan global. Buku ini bermanfaat bagi para pakar pendidikan dan pakar kebudayaan, para politikus serta para legislatif dalam usaha mereformasi pendidikan nasional.

RESENSI "Bersufi melalui Musik"


NAMA  : ANISATUN NUR LAILI
NIM      : 09410275

Identitas Buku
Judul Buku      : Bersufi Melalui Musik, Sebuah Pembelaan Musik Sufi oleh Ahmad Al-Ghazali
Pengarang       : Dr. Abdul Muhaya, M.A.
Penerbit           : Gama Media
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2003
Tebal Buku      : xx + 136 halaman

Bersufi Melalui Musik
            Agama adalah kebutuhan batin setiap individu, dengan agama yang kuat maka seseorang akan memperoleh kepuasan batin sehingga terpenuhi pula kebutuhan jasmaninya. Derajat tinggi dalam pencapaian ilahiyah seseorang adalah tasawuf, dimana seorang sufi adalah orang yang dekat dengan Allah SWT, tidak semua orang mampu bertasawuf, namun semua orang pasti ingin mencapai derajat sufi. Adapun cara yang ditempuh adalah macam-macam, banyak orang berpandangan bahwa derajat sufi hanya bisa didapatkan melalui cara-cara yang kolot seperti wara’, zuhud, dan sempurna menghindari dunia. Tetapi tidaklah seperti itu, Abdul Muhaya melalui studi pemikiran Ahmad al-Ghazali memapakarkan cara lain untuk bersufi dalam buku ini.
            Pada bab pertama dipaparkan bahwasanya bersufi dapat dilakukan melalui al-sama’, yakni menggunakan music. Walaupun ada beberapa ulama’ yang mengharamkan music dengan berbagai pertimbangan bahwasanya music justru memberikan dampak negatif bagi pendengarnya, seperti mendorong orang melakukan gerakan-gerakan yang kurang pantas dan juga menghambat kewajiban karena terhanyut dalam music. Namun disamping itu, tidak sedikit tokoh yang mendukung bahwa music mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, seperti Dr. Tomatis, seorang dokter spesialis T.H.T asal perancis yang mengguanakan vibrasi suara sebagai penyembuhan penyakit, menggunakan music sebagai terapi depresi, karena menurutnya 90% stimulasi otak itu datang dari telinga. Bahkan lebih jelas lagi, penulis mengutip ucapan Dzu al-Nun, seorang sufi terkenal mengatakan bahwasanya music itu suci dan merupakan pengaruh ilahi, barang siapa mendnegarkan music karena dorongan jiwa rendahnya, maka ia akan tersesat, dan siapa yang yang mendengarkannya dengan kecintaan pada Allah, maka ia akan mendapatkan derajat spiritualitas yang tinggi dan mulia dari Allah.
            Pada bab dua dipaparkan tentang apresiasi sufi terhadap musik, dan juga meliputi kajian tentang sejarah musik, makna musik, dan fungsi musik itu sendiri bagi seorang sufi. Abdul Muhaya mengelompokkan asal muasal musik menjadi dua madzhab, yakni madzhab revalationism yang menganggap music sebagai seni suara dan sekaligus sebagai suatu yang memiliki dimensi magis, ritual, dan memiliki pertalian erat dengan agama. Oleh karena itu, musik dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas keagamaan dan dianggap pula sebagai suatu yang sakral. Yang kedua yakni madzhab naturalism, yakni madzhab yang berpendapat bahwa musik adalah bagian dari budaya manusia karena tumbuh dan berkembang bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Pada bab ketiga dibahas tentang biografi Ahmad Al-Ghazali, corak pemikirannya dan karyanya yang berjudul Bawariq al-Ilma’. Abdul Muhaya tertarik menulis buku ini dengan memfokuskan bahasan pada pemikiran Ahmad Al-Ghazali tentang musik, dikarenakan Ahmad Al-Ghazali adalah seorang sufi terkenal, latar kehidupannya sangat beragam, karena ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bermadzhab Syafi’i-Asy’ari, suatu madzhab yang menjadi objek penganiayaan penguasa, sehingga ia terlatih menjadi pribadi yang kuat. Dari latar belakang itulah yang kemudian mewarnai corak pemikirannya dalam kitab Bawariq yang isisnya membela kehalalan music dengan berbagai argument dari dalil Naqli maupun Aqli.
Pada bab keempat, Abdul Muhaya membahas tentang kitab Ahmad al-Ghazali yang berjudul Bawariq al-Ilma’ isinya. Adapun isi dari kitab tersebut adalah mengenai al-sama’ yaitu mendengarkan musik, dimana dalam buku ini disebutkan beberapa faedah melakukan al-Sama’ yakni dapat menghilangkan sampah batin, menguatkan hati, melepaskan seorang sufi dari berbagai urusan yang bersifat lahir, dan dengan music akan menjadikan jiwa-jiwa bahagia.
Pada bab kelima, yakni pembahasan terakhir dalam buku ini adalah kesimpulan dan saran. Ahmad al-Ghazali menghalalkan musik atas lima macam dalil yang diambil dari al-Qur’an hadits, yaitu Q.S 8:23, Q.S 39:17-18, Q.S 31:16, dan yang kedua adalah hadits. Ahmad al-Ghazali juga menganjurkan calon sufi untuk melakukan al-Sama’ karena hukumnya adalah mubah dan memiliki berbagai manfaat, akan tetapi terlebih dahulu menyeleksi jenis music yang akan didengarkan, sehingga music yang didengarkan itu bermanfaat.
Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena dapat menambah wawasan kita kalau tidak selamanya musik itu buruk, dan salah bagi yang berangapan music selalu cenderung pada hal negatif, padahal sejatinya music juga mempunyai peranan yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam buku ini juga dicantumkan referensi yang jelas, sehingga memperkuat pembaca akan argument-argumen kebolehan musik. Akan tetapi, sayangnya buku ini kurang sempurna dalam penulisan arab, tidak ada harakatnya sehingga membuat pembaca kurang mafhum dengan maksudnya. Selain itu ada beberapa kata dalam buku ini yang mengandur unsure bahasa asing tetapi tidaka dijelaskan artinya sehingga membuat pembaca kurang bisa memahami maksudnya.

RESENSI BUKU: WAHYU ALAMSYAH (09410064)


RESENSI BUKU
SINERGI AGAMA DAN BUDAYA LOKAL
"DILEKTIKA MUHAMMADIYAH DAN SENI LOKAL"
Pengarang Buku : M Toyibi. Dkk.
Penerbit : Muhammadiayah University Perss. 2003.

Oleh : Wahyu Alamsyah (09410064)

Seni tradisi lokal yang berkembang dan hidup di suatu komunitas budaya masyarakat merupakan ekspresi akan hidup dan kehidupannya. Sebagai ekspresi hidup dan kehidupannya, ia merupakan media untuk mengungkapkan pandangan hidupnya, serta menjadi sumber inspirasi bagi tegaknya kehidupan spiritual, moral dan sosial.
Namun kedudukan dan fungsi seni tradisi lokal yang demikian itu dewasa ini semakin mengalami marginalisasi. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Penyebab internal mengandaikan kurangnya upaya-upaya dari pelaku seni tradisi untuk mengadopsi perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, sehingga seni tradisi sebagai ekspresi hidup dan kehidupan masyarakatnya dianggap telah out of date. Dengan situasi internal demikian upaya-upaya pelestarian dan terlebih lagi upaya-upaya pengembangan seni tradisi semakin sulit mendapat ruang apresiasi.
Sedangkan penyebab eksternal dapat dikaji dari berbagai sisi. Tiga diantara penyebab eksternal yang terpenting dan berlangsung secara simultan adalah:
1.        Proses globalisasi yang didominasi oleh budaya Barat
2.        Hegemoni Negara dengan konsep budaya nasional yang mengkooptasi budaya daerah
3.        Hegemoni agama formal (arganized religion) yang lebih mengedepankan pendekatan syariah daripada pendekatan spiritual, moral dan sosiologis.
Faktor lainnya dari ketiga proses simultan diatas adalah hiasan atau aksesori sosial yang melingkupi seni trasisi lokal atau efek samping yang ditimbulkannya, sering kali dilepaskan dari pesan-pesan spiritual, sosial dan moralitas yang ada didalamnya, seperti kesan alkholisme, sesualisme dan judi dalam seni Tayub, Ludruk atau Ketoprak Tobong, atau pamer aurat dan gerakan erotis pada seni tari semisal Jaipong, Gandrung Banyuwangi, dan lain sebagainya.
Realitas diatas perlu segera mendapatkan pemecahan-pemecahan yang dalam jargon politik disebut win-win solution. Artinya yaitu diperlukan interpretasi ajaran yang mendalam dalam hubungannya dengan realitas sosiobudaya masyarakat. Dalam hal ini penerjemah dan penafsiran teks ajaran islam diperlukan bantuan analisis kritis dengan berbagai pendekatan seperti filsafat, sosiologi, sejarah, antropologi dan sebagainya. Karenanya, keputusan tentang pemikiran keagamaan tidak serta-merta bersifat menghakimi dan membrangus kekayaan seni budaya yang ada, tatapi ada pemikiran yang mendalam dan slektif. Di sisi lain, dimensi negative dari kulit –kulit dan efek samping yang menghiasi seni tradisi lokal peru dianulir dengan meangapresiasi dan menggali filosofi yang terkandung di dalamnya, yang meliputi pesan-pesan spiritual, sosial dan moralnya. Dengan demikian, akan terjadi dialektika, asimilasi dan akulturasi antara agama yang mendalam dan multidimensional dan seni tradisional lokal.
Dalam buku ini dijelaskan, bahwa posisi strategis muhammadiyah sebagai salah satu dari dua organisasi terbesar di Indonesia barangkali sudah selayaknya tampil sebagai salah satu cagar budaya atas seni tradisi lokal, yang pada umumnya sarat akan pesan-pesan filosofis, baik dalam aspek spiritualitas, moral dan metalitas, maupun pesan sosial. Akan tetapi muhammadiyah dalam peran cagar budaya dalam gerakan keagamaan dan strategi kebudayaannya, seperti kajian-kajian kritis tentang seni budaya, khususnya seni tradisi lokal dengan mengedepankan dimensi positifnya, yaitu pesan-pesan agung yang terkandung di dalamnya dan mengupas serta membuang jauh bias-bias dan kesan negative yang melekat padanya.
Dengan demikian dialog yang interaktif antara pemikiran-pemikiran para ulama, ilmuan sosial, budayawan dan seniman, serta para pelaku dakwah dan pendidikan, sangat diperlukan untuk mempertahankan seni tradisi lokal dan budaya Indonesia dan nilai-nilai relegius, estetika dan etika yang terkandung didalamnya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons